Menjelang Hari Raya Idul Adha, warga Kashmir yang mayoritas Muslim masih terkekang dengan dibatasinya telekomunikasi hingga penahanan para pemimpin politik serta kekhawatiran perubahan demografi. Hal itu terjadi sepekan setelah pemerintah India memperingatkan kemungkinan adanya serangan militan yang berpusat di Pakistan.Namun, Pakistan menolak tuduhan itu.

Sebelum India mengakhiri status istimewa Kashmir, puluhan ribu pasukan India dikerahkan untuk mengekang potensi pemberontakan. Sekitar setengah juta pasukan sudah ditempatkan di sana.

Selain membatasi telekomunikasi, pemerintah India juga memberlakukan pembatasan gerakan. Khawatir adanya pemberontakan massal, India memerintahkan para peziarah dan wisatawan Hindu pergi dari Khasmir.  Polisi menggeledah hotel dan rumah wisata dan meminta turis pergi. Polisi juga menyerukan imbauan perjalanan agar para turis tidak berlibur di wilayah tersebut.

Sejak India merdeka dari jajahan Inggris 1947, Kashmir terpecah untuk dua pertiga India, sementara sisanya termasuk wilayah otoritas Pakistan. Keduanya dipisahkan oleh garis yang disebut Line of Control.

Wilayah Himalaya yang indah itu menjadi sengketa oleh India dan Pakistan, yang telah berperang dua kali sejak tahun 1947. Pemberontak bersenjata dan pengunjuk rasa sipil menginginkan kemerdekaan Kashmir atau penggabungan dengan Pakistan melalui pemungutan suara umum yang didukung PBB. Pemberontakan berintensitas rendah terhadap pemerintahan India pun telah membara sejak tahun 1989 yang sejak itu  menyebabkan puluhan ribu warga sipil terbunuh.

internasional.republika/admin

 

Marhaban Romadhon SImpatiFM